Jumat, 19 Mei 2017

CERITA DARA MUNING KALIMATAN BARAT

cerita rakyat dari kalimantan barat dara muning

Kali ini kami akan memberikan sebuah legenda dari Kalimantan Barat yang bercerita tentangcerita rakyat dari kalimantan barat dara muning. cerita rakyat ini sudah terkenal dikalangan masyarakat Kalimantan Barat. Jika Anda penasaran bagaimana kisah dongeng rakyat kalimantan barat ini, silahkan lanjutkan cerita dongeng cerita rakyat dara muning dari Kalimantan Barat dibawah ini.

Cerita Dongeng Rakyat Kalimantan Barat: Dara Muning

Pada zaman dahulu di Nanga Serawai, kabupaten sintang, hiduplah seorang wanita muda bernama Darah Muning. Suaminya sudah lama merantau sebelum anaknya lahir, karena tuntutan ekonomi keluarga yang mengharuskan ia pergi meninggalkan istri tercinta dan kampung halamanya, sampai akhir hayatnya ia tdak pernah kembali. Setelah dara muning melahirkan anak laki-laki, maka anak itu di beri nama bujang munang. Bujang munang merupakan sosok anak laki-laki rupawan dan pintar, dara muning sangat menyayangi bujang munang, anaknya bisa membuat dirinya tetap tegar menjalani hidup, anaknya selalu membuat hari-harinya cerah, anaknya dipundaknya tersimpan banyak harapan.
cerita rakyat dari kalimantan barat dara muning
cerita rakyat dari kalimantan barat dara muning
singkat cerita bujang munang tumbuh menjadi anak cerdas, seperti kebanyakan orang di desa, bujang munang gemar bermain, hingga tak ingat waktu, sehingga mebuat ibunya khawatir. saking marahnya, ketika bujang munang sapai dirumah ibunya memukul kepalanya dengan sendok yang ia gunakan untuk menanak nasi. saking marahnya iya memukul dengan sangat keras sampai membuat luka sobekan di kepala bujang munang.
beberapa tahun setelah kejadian itu bujang munang memutuskan untuk pergi merantau demi mengadu nasib, ia juga ingin mencari ayahnya yang tak tahu dimana rimbanya, dengan tekat yang bulat ia bermaksud mengutarakan isi hatinya kepada sang ibu, namun ibunya bersikeras menolak keinginan bujang munang, ia takut apa yang terjadi pada suaminya juga akan menimpa anak kesayanganya.
karena niatnya tidak dikabulkan sang ibu, maka bujang munang murung, iya menjalani hari-harinya dengan duduk melamun, melihat anaknya sedih dara muning tak sampai hati, sehingga iya mengijinkan anaknya merantau walau dengan perasaan yang berat. Bujang Munang pun pergi merantau, Pulau demi pulau dijelajahi, namun ayahnya tidak dapat dijumpainya juga. Bertahun-tahun telah lewat, sehingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk pulang kembali kekampung halamanya, ia telah tiba kembali ke desa asalnya. iya merasa asing dengan kampung halaman yang telah lama iya tinggalkan, Hal ini dapat terjadi karena keadaan desanya telah jauh berubah.
Setelah beberapa waktu berada di Nanga Serawai, Bujang Munang telah berkenalan dengan seorang wanita yang teramat cantik. Celakanya, wanita itu ternyata adalah Darah Muning, ibu kandungnya sendiri. Kedua belah pihak tidak sadar akan hal itu, sehingga mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Pada suatu ketika kepala Bujang Munang terasa sangat gatal, maka ia minta istrinya untuk mengutuinya. Ketika sedang asyik menangkap kutu di atas kepala suaminya, Darah Muning menemukan cacat bekas luka di atas kepalanya, sehingga mengingatkan kepadanya akan peristiwa beberapa tahun yang lalu, sewaktu ia dalam keadaan lupa diri telah melukai putranya.
Kepada suaminya itu, Dara Muning segera menanyakan peristiwa terjadinya luka itu. Setelah Bujang Munang selesai menuturkan kisah terjadinya luka pada kepalanya, Darah Muning berpikir tidak salah lagi bahwa yang telah dikawininya adalah putra kandungnya sendiri. Keadaan celaka itu segera diberitahukan kepada “suami”-nya. Karena kedua insan ini telah telanjur menjadi suami istri, dan tak seorang pun dari mereka yang bersedia untuk bercerai, maka hal itu sangat merisaukan hati mereka. Yang sangat merisaukan hati mereka perkawinan sedarah ini akan dikutuk para dewa. Atas nasihat tetua desa, mereka berkeputusan untuk melakukan penebusan dosa dengan melakukan upacara adat keagamaan, menyembahkan sesajian mereka kepada para dewata.
Pembuatan panggung itu langsung ditangani Bujang Munang sendiri. Namun malang baginya, sewaktu membelah kayu tiba-tiba kapak yang diayunkan meleset jatuh melukai alat kelaminnya sehingga mengeluarkan banyak darah. Melihat kejadian ini, Darah Muning segera memegang dengan kencang alat kelamin suaminya dengan maksud agar darah dapat segera berhenti mengalir. Rupanya perbuatan ini dianggap tidak senonoh oleh para dewata, sehingga menimbulkan amarah mereka. Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita, petir kilat bergelegar sambung-menyambung. Setelah udara cerah kembali seperti sedia kala, terlihat bahwa Bujang Munang, Darah Muning, dan panggung persembahan sesajian mereka telah berubah menjadi batu.
pesan moral: sesungguhnya perkawinan sedarah sangat dilarang.anak dari perkawinan sedarah cendrung membawa gen yang sama persis dari kedua orang tua yang memang masih di aliri darah yang sama sehingga memungkinkan anak yang lahir cacat.
demikianlah Cerita Rakyat Kalimantan Barat: dara muning yang bisa kami berikan untuk anda semuanya, semoga cerita rakyat kalimantan barat diatas bisa menghibur dan memberikan sedikit wawasan kepada anda semuanya dan jangan lupa untuk membaca cerita dongeng rakyat lainnya yang sudah kami persiapkan di blogs evo23blogspot.com, terima kasih.

CERITA RAKYAT KALIMANTAN BARAT

Dahulu, hiduplah dua orang pemimpin yang bernama Bujang Beji dan Tumenggung Marubai. Kedua orang ini mempunya sif at yang sangat bertolak belakang. Tumenggung Marubai adalah orang yang baik hati dan tidak sombong. Sementara itu, Bujang Beji adalah orang yang sakti, tetapi serakah dan sombong. Keduanya mempunyai mata pencaharian sebagai pencari ikan dan mempunyai wilayah sendiri-sendiri. Tumenggung Marubai dan pengikutnya mencari ikan di Sungai Simpang Melawi, sedangkan Bujang beji di Sungal Simpang Kapuas.
Dongeng Rakyat Kalimantan Barat Kisah Bujang Beji
Dongeng Rakyat Kalimantan Barat Kisah Bujang Beji
Wilayah Sungai Simpang Melawi mempunyai banyak sekali jenis ikan, lebih banyak daripada ikan-ikan di Sungal Simpang Kapuas. ltulah sebabnya, basil tangkapan Tumenggung Marubai selalu lebih banyak daripada Bujang Beji.
Tumenggung Melawi menggunakan bubu atau sejenis perangkap besar untuk menangkap ikan. Setelah terkumpul dalam perangkap, ia hanya memilih ikan-ikan yang besar, sementara ikan-ikan kecil dilepaskan kembali sehingga ikan-ikan di Sungal Simpang Melawi selalu berkembang biak dan tidak pernah habis.
Melihat hasil tangkapan Tumenggung Marubai, Bujang Beji merasa iri. la pun mencari cara mengalahkan Tumenggung Melawi. Lalu, ia menempuh cara yang kurang baik. la mulai menangkap ikan dengan cara menuba, yaitu meracun ikan-ikan tersebut dengan tuba, yaitu sejenis racun ikan dari akar tumbuh-tumbuhan hutan yang sangat memabukkan.
Pada awalnya, ia mendapatkan ikan yang sangat banyak. Lebih banyak dari hasil tangkapan Tumenggung Marubai. Namun, karena cara yang digunakan adalah membunuh ikan-ikan dengan racun, lama-kelamaan ikan-ikan di sungai Simpang Kapuas menjadi sangat berkurang. Sementara itu, Tumenggung Marubai tetap mendapatkan banyak hasil tangkapan. Ini membuat Bujang Beji menjadi semakin iri.
"lni tidak bisa dibiarkan!" pikir Bujang Beji, "Harus ada cara supaya Tumenggung Marubai tidak mendapatkan banyak ikan."
Kemudian, Bujang Beji mulai berpikir keras. la menemukan cara yang menurutnya terbaik.
"Aku harus menutup aliran Sungai Melawi dengan sebuah batu besar di hulu sungai, dengan demikian ikan-ikan akan menetap di sana," pikir Bujang Beji.
Bujang Beji bermaksud menggunakan puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kapuas Hulu untuk menyumbat Sungai Melawi. Dengan kesaktiannya, ia memotong puncak Bukit Batu tersebut dan membawanya menggunakan tujuh lembar daun ilalang.
Ketika sedang membawa bukit batu tersebut, tiba-tiba terdengar suara gadis-gadis sedang menertawakannya. Mereka adalah dewi-dewi di negeri khayangan. Ketika sampai di persimpangan antara Kapuas dan Malawi, Bujang Beji melongok ke atas untuk melihat siapa yang menertawakannya. Tanpa sengaja, kakinya menginjak duri beracun hingga la melompat dan menjerit kesakitan. Akibatnya, tujuh lembar daun ilalang yang dipakainya terputus. Puncak bukit batu tersebut pun terjatuh di sebuah aliran sungai yang disebut dengan jetak.
Bujang Beji sangat marah kepada dewi-dewi khayangan yang menertawakannya.
"Aku akan membalas kalian!" teriaknya sambil menghentakkan kakinya yang tertusuk duri beracun di salah satu bukit di dekatnya.
Kemudian, Bujang Beji berusaha mengangkat Bukit Batu yang sudah terendam di jetak dengan cara mencongkelnya menggunakan sebuah bukit memanjang. Namun, karena bukit batu tersebut sudah melekat di jetak, usahanya tidak berhasil. Bukit memanjang itu pun patah. Patahannya kini dinamakan Bukit Liut. Dengan demikian, gagallah usaha Bujang Beji menutup Sungai Melawi. Semua karena dewi-dewi khayangan. Aku akan membalas dendam," kata Bujang Benji.
Bujang Benji merencanakan untuk menggapai negeri khayangan dengan menggunakan pohon kumpang mambu, yaitu sejenis pohon kayu raksasa yang ujungnya menjulang ke langit. la mulai menanam pohon kumpang mambu. Dalam beberapa hari saja pohon tersebut sudah tumbuh tinggi sekali, sampai puncaknya tidak terlihat mata.
Sebelum memanjat kumpang mambu, Bujang Beji melakukan ritual adat, yaitu memberi sesaji kepada roh-roh halus dan binatang-binatang di sekitarnya agar tidak mengganggu usahanya untuk mencapai negeri khayangan. Namun, ada dua jenis hewan yang lupa diberi sesaji oleh Bujang Beji, mereka adalah kelompok rayap dan beruang.
Rayap dan Beruang merasa marah, karena tidak diberi sesaji. Mereka pun berunding untuk menggagalkan usaha Bujang Beji.
"Kita gerogoti saja pohon kumpang mambu itu hingga terputus!" usul beruang. Kelompok Rayap pun setuju.
Ketika Bujang Beji mulai memanjat pohon kumpang mambu, segerombolan rayap dan beruang datang menyerbu dan menggerogoti pohon tersebut di bagian bawah hingga pohon tersebut terputus.
Pada saat itu, Bujang Beji sudah hampir mencapai negeri khayangan. la pun terhempas jatuh ke tanah dan tewas seketika.
Dengan demikian, usaha Bujang Beji mencelakai dewi-dewi khayangan pun gagal. Tumenggung Marubai pun terhindar dari niat jahat Bujang Beji.
Sementara itu, puncak Bukit Nanga Silat yang terlepas dari pukulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Kini Bukit Kelam menjadi salah satu objek wisata di daerah Sintang, Kalimantan Barat, dan menjadi kawasan hutan wisata dengan pemandangan yang sangat indah.

CERITA DARA MUNING KALIMATAN BARAT

cerita rakyat dari kalimantan barat dara muning Kali ini kami akan memberikan sebuah legenda dari Kalimantan Barat yang bercerita tentang...