cerita rakyat dari kalimantan barat dara muning
Kali ini kami akan memberikan sebuah legenda dari Kalimantan Barat yang bercerita tentangcerita rakyat dari kalimantan barat dara muning. cerita rakyat ini sudah terkenal dikalangan masyarakat Kalimantan Barat. Jika Anda penasaran bagaimana kisah dongeng rakyat kalimantan barat ini, silahkan lanjutkan cerita dongeng cerita rakyat dara muning dari Kalimantan Barat dibawah ini.
Cerita Dongeng Rakyat Kalimantan Barat: Dara Muning
Pada zaman dahulu di Nanga Serawai, kabupaten sintang, hiduplah seorang wanita muda bernama Darah Muning. Suaminya sudah lama merantau sebelum anaknya lahir, karena tuntutan ekonomi keluarga yang mengharuskan ia pergi meninggalkan istri tercinta dan kampung halamanya, sampai akhir hayatnya ia tdak pernah kembali. Setelah dara muning melahirkan anak laki-laki, maka anak itu di beri nama bujang munang. Bujang munang merupakan sosok anak laki-laki rupawan dan pintar, dara muning sangat menyayangi bujang munang, anaknya bisa membuat dirinya tetap tegar menjalani hidup, anaknya selalu membuat hari-harinya cerah, anaknya dipundaknya tersimpan banyak harapan.

cerita rakyat dari kalimantan barat dara muning
singkat cerita bujang munang tumbuh menjadi anak cerdas, seperti kebanyakan orang di desa, bujang munang gemar bermain, hingga tak ingat waktu, sehingga mebuat ibunya khawatir. saking marahnya, ketika bujang munang sapai dirumah ibunya memukul kepalanya dengan sendok yang ia gunakan untuk menanak nasi. saking marahnya iya memukul dengan sangat keras sampai membuat luka sobekan di kepala bujang munang.
beberapa tahun setelah kejadian itu bujang munang memutuskan untuk pergi merantau demi mengadu nasib, ia juga ingin mencari ayahnya yang tak tahu dimana rimbanya, dengan tekat yang bulat ia bermaksud mengutarakan isi hatinya kepada sang ibu, namun ibunya bersikeras menolak keinginan bujang munang, ia takut apa yang terjadi pada suaminya juga akan menimpa anak kesayanganya.
karena niatnya tidak dikabulkan sang ibu, maka bujang munang murung, iya menjalani hari-harinya dengan duduk melamun, melihat anaknya sedih dara muning tak sampai hati, sehingga iya mengijinkan anaknya merantau walau dengan perasaan yang berat. Bujang Munang pun pergi merantau, Pulau demi pulau dijelajahi, namun ayahnya tidak dapat dijumpainya juga. Bertahun-tahun telah lewat, sehingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk pulang kembali kekampung halamanya, ia telah tiba kembali ke desa asalnya. iya merasa asing dengan kampung halaman yang telah lama iya tinggalkan, Hal ini dapat terjadi karena keadaan desanya telah jauh berubah.
Setelah beberapa waktu berada di Nanga Serawai, Bujang Munang telah berkenalan dengan seorang wanita yang teramat cantik. Celakanya, wanita itu ternyata adalah Darah Muning, ibu kandungnya sendiri. Kedua belah pihak tidak sadar akan hal itu, sehingga mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Pada suatu ketika kepala Bujang Munang terasa sangat gatal, maka ia minta istrinya untuk mengutuinya. Ketika sedang asyik menangkap kutu di atas kepala suaminya, Darah Muning menemukan cacat bekas luka di atas kepalanya, sehingga mengingatkan kepadanya akan peristiwa beberapa tahun yang lalu, sewaktu ia dalam keadaan lupa diri telah melukai putranya.
Kepada suaminya itu, Dara Muning segera menanyakan peristiwa terjadinya luka itu. Setelah Bujang Munang selesai menuturkan kisah terjadinya luka pada kepalanya, Darah Muning berpikir tidak salah lagi bahwa yang telah dikawininya adalah putra kandungnya sendiri. Keadaan celaka itu segera diberitahukan kepada “suami”-nya. Karena kedua insan ini telah telanjur menjadi suami istri, dan tak seorang pun dari mereka yang bersedia untuk bercerai, maka hal itu sangat merisaukan hati mereka. Yang sangat merisaukan hati mereka perkawinan sedarah ini akan dikutuk para dewa. Atas nasihat tetua desa, mereka berkeputusan untuk melakukan penebusan dosa dengan melakukan upacara adat keagamaan, menyembahkan sesajian mereka kepada para dewata.
Pembuatan panggung itu langsung ditangani Bujang Munang sendiri. Namun malang baginya, sewaktu membelah kayu tiba-tiba kapak yang diayunkan meleset jatuh melukai alat kelaminnya sehingga mengeluarkan banyak darah. Melihat kejadian ini, Darah Muning segera memegang dengan kencang alat kelamin suaminya dengan maksud agar darah dapat segera berhenti mengalir. Rupanya perbuatan ini dianggap tidak senonoh oleh para dewata, sehingga menimbulkan amarah mereka. Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita, petir kilat bergelegar sambung-menyambung. Setelah udara cerah kembali seperti sedia kala, terlihat bahwa Bujang Munang, Darah Muning, dan panggung persembahan sesajian mereka telah berubah menjadi batu.
pesan moral: sesungguhnya perkawinan sedarah sangat dilarang.anak dari perkawinan sedarah cendrung membawa gen yang sama persis dari kedua orang tua yang memang masih di aliri darah yang sama sehingga memungkinkan anak yang lahir cacat.
demikianlah Cerita Rakyat Kalimantan Barat: dara muning yang bisa kami berikan untuk anda semuanya, semoga cerita rakyat kalimantan barat diatas bisa menghibur dan memberikan sedikit wawasan kepada anda semuanya dan jangan lupa untuk membaca cerita dongeng rakyat lainnya yang sudah kami persiapkan di blogs evo23blogspot.com, terima kasih.
